Genggam Corona, Belajar Penuh Asa

    Dunia berubah? Salah satu pertanyaan sederhana yang bisa memunculkan banyak jawaban. Bahkan banyak pertanyaan baru akan muncul untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu. Sama halnya dengan pendidikan, selalu ada permasalahan baru dalam berbagai keadaan. Dari permasalahan tersebutlah tercipta solusi sinkron antara permasalahan dan keadaan.


    Seperti yang kita ketahui, dunia telekomunikasi memberikan pengaruh penting dalam segala aspek kehidupan. Sejak dikenalkannya android tahun 2007 oleh Google, berbagai smartphone berbasis android mulai bermunculan. Banyak aspek kehidupan diuntungkan dengan adanya smartphone tersebut. Begitu pula dengan dunia pendidikan yang notabene merupakan konsumen dari perkembangan teknologi.
    Dewasa ini, anak usia sekolah sangat menikmati berbagai keadaan dengan smartphone mereka. Semenjak diberlakukannya pembelajaran daring di Sekolah, intensitas penggunaan smartphone menjadi semakin tinggi. Dengan pola pembelajaran baru yang harus dilakukan karena efek dari penyakit coronavirus (COVID-19) tidak serta merta membuat mereka malas belajar. Ingat, mereka adalah generasi yang masif akan teknologi. Meski harus menggunakan platform pembelajaran tertentu yang digunakan guru terasa rumit, mereka selalu bisa mengikuti dengan baik. Tak ayal kalau guru sering berganti-ganti platform pembelajaran. Sebagai peserta didik, mereka akan dengan cepat belajar menggunakan platform pembelajaran tersebut seperti layaknya bermain game.
    Sejalan dengan kebijakan baru terkait pembelajaran jarak jauh (PJJ), membawa smartphone seolah-olah menjadi hal yang wajib bagi peserta didik. Belajar dimana saja dan kapan saja sudah menjadi hal yang biasa. Semua menjadi lebih praktis dan mudah. Peserta didik bisa mengerjakan tugas yang diberikan guru tanpa terikat waktu dan tempat. Dengan ini semua, peserta didik bisa dengan leluasa membagi waktu belajar, bermain dan melakukan aktifitas lain.
    Dalam mencari sumber belajar baik berupa video, file maupun audio tidaklah menjadi persoalan. Berbagai mesin pencari seperti DuckDuckGo, Bing, Yahoo dan yang lainnya siap kapan saja. Bahkan Google menjadi mesin pencari sekaligus browser andalan bagi kebanyakan peserta didik. Semua informasi dapat dicari secara cepat dan instan, tergantung kata kunci yang dimasukkan pada kolom pencarian. Sedangkan Youtube akan membawa peserta didik pada sumber belajar berupa video yang siap dieksplorasi guna memperkaya pembelajaran.
    Untungnya, semua hal di atas juga bisa dikuasai guru dengan adanya banyak pelatihan maupun seminar guna meningkatkan kompetensi diri. Berbagai pembelajaran berbasis Learning Management System (LMS) tersedia sejalan dengan semua kebijakan terkait Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Dari yang gratis maupun berbayar dapat diikuti oleh guru maupun tenaga kependidikan tanpa terkecuali.
    Untuk melakukan komunikasi secara langsung, kita juga telah dimanjakan dengan berbagai aplikasi video conference. Seperti Zoom, Google Meet, Webex, dan Microsoft Teams bisa digunakan dalam pembelajaran Sinkron. Semua aplikasi tersebut dapat dijadikan penunjang pembelajaran bagi semua baik peserta didik maupun guru. Semua bisa digunakan hanya dengan menggunakan smartphone yang secara teknis bisa kita instal atau kita buka menggunakan browser yang tersedia di smartphone.
    Dengan semua kemudahan yang tersedia, tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti belajar. Coronavirus yang mewabah dan menjangkit banyak penduduk dunia bukanlah suatu hambatan untuk melakukan segala aktifitas pembelajaran. Tinggal kita pilih, luring, daring atau campuran dari keduanya. Rasanya semua tergantung pribadi masing-masing. Tidak ada alasan lagi kalau Coronavirus mengganggu pembelajaran. Yang perlu dilakukan hanyalah terus belajar dengan sumber daya yang tidak terbatas ini tanpa adanya rasa malas di dalam diri.

#PGRI, #KOGTIK, #EPSON dan #KGSN

https://www.gurupenggerakindonesia.com/

PROFIL

 

ARFIANTO WISNUGROHO, S.Pd

Lahir di Bantul, 9 Januari 1986. Menikah dan dikaruniai dua anak. Saat ini sedang mengajar di SMA Negeri 1 Sawang, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Pernah bergiat di Marching Band Citra Derap Bahana, Universitas Negeri Yogyakarta (2005-2009), Karang Taruna (2007-2010), Takmir Masjid Fayza Hasan (2007-2010), Penggiat Remaja Masjid (2009), Penyiar Radio Komunitas (2006-2008), Menjadi ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) TIK Aceh Selatan (2017-Sekarang). Ikut terlibat dalam pelatihan Master of Ceremony Bahasa Jawa (2009), Pelatihan Penyiaran (2006, 2007), Penulis Story Board Multimedia Pembelajaran Untuk Anak tingkat SD-SMP (2010), Juara III Guru Inklusi Berprestasi tingkat Kabupaten Aceh Selatan (2020). 

BEST PRACTICE_PENINGKATAN MOTIVASI ANAK TUNADAKSA DALAM PENDIDIKAN INKLUSIF DENGAN METODE DKS (DAMPINGI, KOMUNIKASI, SEMANGATI) DI SMAN 1 SAWANG

BEST PRACTICE

 

PENINGKATAN MOTIVASI ANAK TUNADAKSA DALAM PENDIDIKAN INKLUSIF DENGAN METODE DKS (DAMPINGI, KOMUNIKASI, SEMANGATI) DI SMAN 1 SAWANG

 

 

 

 

 

 



 

 

 

Oleh :

 

Arfianto Wisnugroho, S.Pd

NIP. 198601092015041001

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SMAN 1 SAWANG

KABUPATEN ACEH SELATAN

DINAS PENDIDIKAN PROVINSI ACEH

PEMERINTAH ACEH

2020

 





KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya akhirnya penulis telah dapat menyelesaikan best practice yang berjudul “Peningkatan Motivasi Anak Tunadaksa Dalam Pendidikan Inklusif Dengan Metode DKS (Dampingi, Komunikasi, Semangati) Di SMAN 1 Sawang”.

Dalam penelitian dan penyusunan laporan ini penulis mengalami banyak hambatan, namun berkat bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan laporan ini dengan baik dan lancar. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1.        Syamsuir, S.Pd. selaku Kepala SMAN 1 Sawang yang telah memberikan izin penulis untuk melakukan penelitian.

2.        Guru dan staf SMAN 1 Sawang yang mendukung penyelesaian laporan ini.

3.        Siswa berkebutuhan khusus tunadaksa yang membantu penulis dalam proses penelitian dan penyelesaian laporan ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penelitian dan penyusunan laporan best praktice ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi penyempurnaan dan perbaikan lebih lanjut.

Semoga segala kebaikan yang telah diberikan kepada penulis, mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Semoga laporan best praktice ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.

 

Sawang, 22 Oktober 2020

Penulis,

 

Arfianto Wisnugroho, S.Pd

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRAK

 

PENINGKATAN MOTIVASI ANAK TUNADAKSA DALAM PENDIDIKAN INKLUSIF DENGAN METODE DKS (DAMPINGI, KOMUNIKASI, SEMANGATI) DI SMAN 1 SAWANG

 

Arfianto Wisnugroho

SMAN 1 Sawang, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh

arfiyanase@gmail.com

 

            Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki gangguan perkembangan baik secara fisik maupun mental sehingga perlu penanganan khusus. Tipe-tipe kebutuhan khusus ini dapat berupa cacat fisik, hiperaktif, autis dan tunalaras (gangguan emosi dan perilaku). Kendati terlihat berbeda dari anak pada umumnya, mereka tetap memiliki hak yang sama dengan anak lain. Karena itulah sekolah inklusi hadir untuk mengakomodasi anak berkebutuhan khusus sehingga mereka tidak mengalami diskriminasi dalam memperoleh pendidikan. Hal itu menuntut kesiapan sekolah akan pelayanan yang mumpuni untuk dapat merangkul juga siswa berkebutuhan khusus. Salah satu bentuk pelayanan ini adalah peran guru yang lebih peka dan lekat dengan siswa berkebutuhan khusus. Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya siswa penyandang tunadaksa atau cacat fisik berupa salah satu kaki kecil, berjalan pincang dan vokal bicara agak terbata-bata. Ia yang awalnya memiliki motivasi belajar tiba-tiba mengalami penurunan bahkan ingin menyerah dalam sekolah. Penelitian ini diarahkan untuk meningkatkan motivasi anak berkebutuhan khusus dengan metode DKS (Dampingi, Komunikasi, Semangati). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dilaksanakan di SMAN 1 Sawang sebagai salah satu sekolah inklusi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode DKS dapat meningkatkan motivasi belajar siswa berkebutuhan khusus. Buktinya, siswa ini sekarang sudah menjadi mahasiswa di Universitas Teuku Umar, jurusan Ilmu Komunikasi di semester ini.

 

Kata Kunci : Motivasi, Anak Tunadaksa, Pendidikan inklusif, DKS (Dampingi, Komunikasi, Semangati)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Halaman Judul.................................................................................................................... i

Abstrak ............................................................................................................................. ii

Kata Pengantar................................................................................................................ .iii

Daftar Isi ......................................................................................................................... iv

Daftar Tabel....................................................................................................................... v

Daftar Lampiran............................................................................................................... vi

 

PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1

 

A.    Latar Belakang Masalah ....................................................................................... 1

 

B.     Rumusan Masalah ................................................................................................. 2

 

C.     Tujuan Penelitian .................................................................................................. 2

 

D.    Manfaat Penelitian ................................................................................................ 2

 

TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................ 3

 

A.    Pendidikan Inklusif .............................................................................................. 3

 

B.     Anak Berkebutuhan Khusus ................................................................................. 4

 

C.     Psikologi Anak Tunadaksa ................................................................................... 5

 

D.    Peningkatan Motivasi dengan Metode DKS (Dampingi, Komunikasi, Semangati)   5

 

PEMBAHASAN ............................................................................................................. 8

 

A.    Langkah-Langkah Pelaksanaan Best Praktice ...................................................... 8

 

B.     Hasil yang Dicapai ................................................................................................ 8

 

C.     Nilai Penting dan Kebaruan Best Praktice yang Telah Dilaksanakan ................ 10

 

D.    Tindak Lanjut ..................................................................................................... 11

 

SIMPULAN DAN SARAN ......................................................................................... 12

 

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 13

 

 

DAFTAR TABEL

 

Tabel 1. Hasil Peningkatan Motivasi Anak Tunadaksa Melalui Metode DKS……9

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR LAMPIRAN

 

 

Foto-Foto Kegiatan Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus Tunadaksa..14


PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang Masalah

Setiap anak istimewa. Mereka lahir dengan potensi, bakat dan warnanya masing-masing. Sehingga memberi keragaman dan corak yang berbeda dalam kehidupan kita. Ada juga anak yang lahir dengan kebutuhan khusus. Dimana mereka memiliki kekhususan dalam perkembangan fisik dan mental. Kendati demikian, semua anak memiliki kesamaan dalam mendapatkan hak asasi yang paling mendasar dalam kehidupan yaitu pendidikan.

Seperti yang diamanatkan oleh bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Ia bukanlah sebuah pembelajaran akademik semata namun lebih dari itu. Pendidikan membuat seorang manusia memiliki ilmu, karakter dan bisa menjalani kehidupannya dengan sebaik-baiknya.

Oleh karena itu, sudah selayaknya siswa berkebutuhan khusus ikut bersekolah dengan siswa yang normal agar semua anak saling berinteraksi dan tidak muncul diskriminasi. Mereka semua dapat mengenal kehidupan bersama-sama dalam proses pendidikan yang berorientasi pada ilmu, karakter dan nilai-nilai luhur kehidupan.

Florian dalam Aini Mahabbati (2010) mengemukakan bahwa pendidikan inklusif merupakan model pendidikan yang memberikan kesempatan kepada siswa berkebutuhan khusus dapat belajar bersama dengan siswa tidak berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusif lahir atas dasar prinsip bahwa layanan sekolah seharusnya diperuntukkan untuk semua siswa tanpa menghiraukan perbedaan yang ada baik siswa dengan kondisi kebutuhan khusus, perbedaan sosial, emosional, kultural maupun bahasa.

Konsekuensi dari pendidikan inklusif ini menuntut sekolah untuk mampu memberikan pelayanan pembelajaran yang mengakomodasi anak berkebutuhan khusus. Selain sarana prasarana, peran guru dalam menerima, mengayomi, mendidik anak berkebutuhan khusus dengan lebih peka sangat menentukan keberhasilan pendidikan inklusif.

SMAN 1 Sawang merupakan salah satu sekolah inklusi yang menjamin pelayanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Merangkul anak berkebutuhan khusus dengan karakternya masing-masing dalam memperoleh pendidikan yang sama sudah menjadi visi dan cita-cita. Namun, dalam pelaksanaannya terdapat kendala yang membuat pembelajaran ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Seperti yang dialami salah satu siswa kami dengan tunadaksa (cacat fisik berupa kaki kecil sebelah) berjalan pincang dan ucapan masih terbata. Awalnya siswa ini tampak semangat belajar namun lama-lama motivasinya berkurang hingga di titik ingin menyerah dan tidak melanjutkan sekolah.

Perasaan rendah diri, takut, malu, cemas, sasaran bullying teman sekelas, keterlambatan dalam memahami pelajaran membuatnya tidak termotivasi belajar. Keadaan ini pun diperparah dengan kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu. Ia jadi semakin merasa tersingkir dari proses pendidikan itu sendiri.

Dilatarbelakangi oleh hal tersebut di atas, penulis tergerak untuk melaksanakan penelitian tentang peningkatan motivasi siswa berkebutuhan khusus dengan DKS (Dampingi, Komunikasi, Semangati). Adapun judul penelitian ini adalah “Peningkatan Motivasi Anak Tunadaksa Dalam Pendidikan Inklusif Dengan Metode DKS (Dampingi, Komunikasi, Semangati) Di SMAN 1 Sawang”.

 

B.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana penggunaan metode DKS (Dampingi, Komunikasi, Semangati) dapat meningkatkan motivasi anak berkebutuhan khusus dalam pendidikan inklusif di SMAN 1 Sawang?”

 

C.  Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1.      Meningkatkan motivasi belajar anak berkebutuhan khusus dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah inklusi.

2.      Mengetahui efektifitas metode DKS (Dampingi, Komunikasi, Semangati) dalam pelaksanaan pendidikan inklusif di SMAN 1 Sawang.

 

D.  Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah :

1.      Menambah referensi guru tentang metode pembelajaran yang tepat untuk anak berkebutuhan khusus.

2.      Sebagai bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya.

3.      Sebagai masukan untuk Dinas Pendidikan Aceh, tenaga pendidik dan kependidikan serta masyarakat agar lebih memberikan perhatian pada pendidikan anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi.

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

A.    Pendidikan Inklusif

Pada masa lalu, anak berkebutuhan khusus disebut dengan anak cacat. Seiring dengan perkembangan zaman, istilah ini tidak lazim lagi digunakan karena dianggap kasar dan mencedarai hati masyarakat khususnya penyandang cacat. Anak berkebutuhan khusus sekarang lebih sering disebut difabel atau anak istimewa. Anak berkebutuhan khusus ini memiliki karakteristik khusus dan kemampuan yang berbeda. Begitupun dengan macam-macam penyebutannya sesuai dengan hambatan apa yang dialami anak tersebut.

Menurut Kauffman & Hallahan (2005) dalam Atien Nur Chamidah (2013) tipe-tipe kebutuhan khusus ada sembilan. Mereka adalah (1) tunagrahita (mental retardation) atau anak dengan hambatan perkembangan (child with development impairment), (2) kesulitan Belajar (learning disabilities) atau anak yang berprestasi rendah, (3) hiperaktif (Attention Deficit Disorder with Hyperactive ), (4) tunalaras (Emotional and behavioral disorder), (5) tunarungu wicara (communication disorder and deafness), (6) tunanetra atau anak dengan hambatan penglihatan (Partially seing and legally blind), (7) autistik, (8) tunadaksa (physical handicapped), dan (9) anak berbakat (giftedness and special talents).

Kendati memiliki hambatan atau penanganan khusus, mereka tetap memiliki hak yang sama dalam memperoleh layanan pendidikan. Pemerintah menetapkan penyelenggaraan pendidikan inklusif yang diatur dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab IV pasal 5 ayat 1. Undang-undang tersebut menyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.

Hal tersebut dipertegas dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maupun dalam Peraturan Mendiknas No. 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa (Prastiyono, 2013: 117).

Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32 juga disebutkan bahwa: “Pendidikan khusus (pendidikan luar biasa) merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial, dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat.

Dari undang-undang serta aturan yang dirumuskan, tampak bahwa negara menjamin pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus sama dengan anak normal lainnya. Tidak ada diskriminasi yang menyebabkan anak berkebutuhan khusus tidak mendapat kesempatan yang sama.

Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang terbuka untuk semua “jenis” siswa. Ia mengakomodasi kebutuhan siswa berkebutuhan khusus untuk mendapatkan proses pembelajaran yang sama. Dengan begitu tidak ada diskriminatif dan kesenjangan antara anak berkebutuhan khusus dengan yang bukan. Hal tersebut tentulah dibarengi dengan pemenuhan sarana prasarana sekolah yang sudah ramah untuk siswa berkebutuhan khusus. Serta, kompetensi guru dalam menangani siswa berkebutuhan khusus.

 

B.     Anak Berkebutuhan Khusus

Atien Nur Chamidah (2013) memaparkan ada sebelas jenis anak berkebutuhan khusus berdasarkan jenis kelainan yang dialaminya.

1.      Anak dengan kebutaan (tunanetra), baik menyeluruh maupun sebagian

2.      Anak dengan gangguan pendengaran (tunarungu), baik yang menyeluruh maupun sebagian sehingga tidak mampu berkomunikasi dengan bahasa lisan.

3.      Anak dengan cacat fisik pada alat gerak seperti sendi atau otot (tunadaksa) yang menyebabkan kelainan gerakan anggota tubuh

4.      Anak berbakat yang melebihi intelegensi anak seusianya.

5.      Anak keterbelakangan mental atau tunagrahita (retardasi mental) sehingga mengalami kesulitan belajar dibanding anak seusianya.

6.      Lamban belajar (slow learner) yaitu anak dengan intelegensi sedikit dibawah normal namun belum termasuk tunagrahita.

7.      Anak dengan disfungsi neurologis sehingga mengalami kesulitan belajar spesifik seperti disleksia dan disgrafia.

8.      Anak yang mengalami kelainan suara, artikulasi (pengucapan), atau kelancaran bicara, yang mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa, isi bahasa, atau fungsi bahasa.

9.      Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku.

10.  ADHD/GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas)

11.  Autisme Autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks, meliputi gangguan komunikasi, interaksi sosial, dan aktivitas imaginatif, yang mulai tampak sebelum anak berusia tiga tahun, bahkan anak yang termasuk autisme infantil gejalanya sudah muncul sejak lahir.

Dalam perkembangannya, anak-anak dengan kebutuhan khusus di atas membutuhkan penanganan khusus yang membuat mereka tidak terbedakan dengan anak tanpa kebutuhan khusus. Layanan pendidikan yang diberikan harus dapat mengurangi hambatan yang ada dengan memanfaatkan potensi lain yang mereka miliki. Pendidik juga perlu memahami bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama besarnya dengan anak normal lain dalam mengakses pendidikan dan kehidupan yang sebesar-besarnya.

 

C.    Psikologi Anak Tunadaksa

Selain mempertimbangkan kebutuhan khusus yang disandang anak dikarenakan cacatnya, psikologi anak penting diperhatikan. Keberhasilan pendidikan inklusif di sekolah tidak terlepas dari pemahaman akan mental anak dan usaha guru menjadikan hal itu sebagai formula dalam mencari solusi yang tepat.

Dinie Ratri Desiningrum (2016) mengemukakan bahwa tunadaksa adalah kelainan ortopedik berupa gangguan dari fungsi tulang, otot dan persendian baik karena bawaan sejak lahir, penyakit maupun kecelakaan. Kelainan fisik ini akan memengaruhi kepribadian, emosi, dan sosial. Kegiatan-kegiatan jasmani yang dilakukan anak bersama anak normal akan menimbulkan masalah emosional yang membuatnya menyingkir dari keramaian. Anak tunadaksa cenderung tertutup, malu, rendah diri, sensitif dan acuh jika dikumpulkan dengan anak normal dalam suatu permainan. Berdasarkan penelitian kecacatan yang dialami tidak mempengaruhi intelektual anak dengan tunadaksa. Namun dapat menimbulkan gangguan lain seperti sakit gigi, berkurangnya daya pendengaran, penglihatan, dan gangguan bicara (gagap).

 

D.    Peningkatan Motivasi dengan Metode DKS (Dampingi, Komunikasi, Semangati)

Pada dasarnya, motivasi merupakan unsur penggerak dan pendorong dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu demi mencapai hasil dan tujuan tertentu. Dorongan ini mewujud dalam usaha sadar yang dijalankan dengan penuh Hasrat untuk menggapai apa yang menjadi tujuannya.

Menurut Mc Donald dalam Oemar Hamalik (2001:158), mendefinisikan motivasi sebagai perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Motivasi tumbuh didorong oleh kebutuhan (need) seseorang, seperti kebutuhan menjadi kaya, maka seseorang berusaha mencari penghasilan sebanyak-banyaknya.  Berikut ini pendapat Mc. Donald mengenai motivasi yang dikutip oleh Sardiman (2005:74). Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian ini terkandung tiga elemen penting dalam pengertian motivasi, yaitu:

1)        Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam sistem neurophysiological yang ada pada organisme manusia. Karena menyangkut perubahan energi manusia (walaupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia.

2)        Motivasi ditandai dengan munculnya, rasa/ feeling, afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah-laku manusia.

3)        Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena terangsang/ terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.

Motivasi ini dapat juga dikaitkan dengan persoalan minat. Minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu, apa yang dilihat seseorang sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingannya sendiri (Sardiman A.M, 2005:76).

Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2003:61) istilah motivasi diartikan sebagai kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu. Kekuatan tersebut menunjukkan suatu kondisi dalam diri individu untuk mendorong atau menggerakkan individu tersebut untuk mampu melakukan kegiatan mencapai sesuatu tujuan. Pendapat yang diungkapkan oleh Ngalim Purwanto (2003:61), motivasi atau dorongan adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan (goal) atau perangsang (incentive).

Dari beberapa definisi tersebut, maka motivasi mengandung tiga komponen pokok, yaitu menggerakkan, mengalihkan, dan menopang tingkah laku manusia. Oleh karena itu, motivasi juga dipengaruhi oleh keadaan emosi seseorang. Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauan untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Kecenderungan sukses ditentukan oleh motivasi dan peluang serta intensif, begitu pula sebaliknya dengan kecenderungan untuk gagal.

Bagi siswa berkebutuhan khusus, motivasi yang diberikan guru, teman dan masyarakat sekelilingnya sangatlah diperlukan untuk membuat mereka merasa diterima dan tidak berbeda dalam kehidupan. Salah satu metode yang dapat diupayakan guru adalah DKS dampingi, komunikasi, semangati.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa pengertian damping adalah dekat, karib, rapat (tentang persaudaraan). Sedangkan mendampingi adalah menyertai dekat-dekat dalam suka dan duka, setia selalu. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa mendampingi siswa berkebutuhan khusus bukan semata di saat tatap muka pembelajaran saja. Pendampingan ini bisa dilakukan di luar jam pelajaran dalam bentuk obrolan santai, ringan namun bermakna. Metode ini akan membuat siswa berkebutuhan khusus merasa diterima, ada teman yang mengerti dan merasa nyaman dalam melaksanakan pendidikan di sekolah inklusi.

Adapun komunikasi, menurut Rizal Masdul (2018) merupakan suatu proses sosial yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan manusia. Dengan komunikasi seorang guru dan siswa berkebutuhan khusus dapat saling memahami apa yang diinginkan, dibutuhkan dan harus dilakukan.

Ketika sudah ada pendampingan yang kontinu disertai komunikasi yang lancar maka menyemangati anak akan lebih mudah. Semangat ini akan terlihat dari keinginan anak untuk fokus pada potensinya dibandingkan hambatan yang ia punya. Disiplin belajar dan menyiapkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

A.    Langkah-Langkah Pelaksanaan Best Praktice

1.      Perencanaan

a.       Melakukan koordinasi dengan kepala sekolah terkait bimbingan terhadap anak berkebutuhan khusus tunadaksa dengan metode DKS (Dampingi, Komunikasi, Semangati)

b.      Menentukan secara bersama jadwal bimbingan mandiri dengan anak berkebutuhan khusus tunadaksa

c.       Mengomunikasikan bentuk bimbingan terstruktur dan tidak terstruktur kepada anak berkebutuhan khusus tunadaksa sebagai bentuk pelayanan pendidikan inklusif di sekolah inklusi

2.      Pelaksanaan

a.       Guru melakukan pendampingan dan komunikasi terkait aktivitas belajar dan siswa berkebutuhan khusus sesuai jadwal.

b.      Guru memberikan keterampilan Ilmu Komunikasi Teknologi untuk perencanaan masa depan siswa berkebutuhan khusus tunadaksa.

c.       Guru mendampingi siswa dalam persiapan kebutuhan pembelajaran ke depannya

d.      Menyemangati siswa dengan memberikan masukan solutif terkait hambatan yang dialaminya selama pembelajaran.

e.       Penulis mencatat setiap perkembangan bimbingan yang dilaksanakan di lembar observasi

f.       Siswa diminta mengisi lembar refleksi tentang proses bimbingan yang dilaksanakan

g.      Penulis melakukan analisis hasil refleksi siswa dan mengidentifikasi kelemahan yang muncul selama bimbingan.

 

B.     Hasil yang Dicapai

Berdasarkan kondisi awal observasi dan wawancara terhadap siswa berkebutuhan khusus tunadaksa, terjadi penurunan motivasi dalam belajar. Awalnya siswa semangat belajar namun lama kelamaan motivasinya menurun. Ia merasa tidak diterima di lingkungannya. Perasaan malu, rendah diri dan berbeda membuatnya tidak mau melanjutkan sekolahnya. Dia juga mengalami kesulitan belajar karena gangguan pada pengucapan vokal. Ditambah lagi dengan kondisi ekonomi keluarga yang rendah, membuatnya tidak ada keyakinan untuk menimba ilmu ke perguruan tinggi. Dia menyukai ilmu komunikasi namun kondisinya tidak memungkinkan untuk itu.

Setelah mengumpulkan data dan informasi tentang permasalahan yang terjadi pada anak berkebutuhan khusus tunadaksa, dilakukanlah DKS (Dampingi, Komunikasi, Semangati) dalam jadwal bimbingan mandiri.  Setiap permasalahan diberikan layanan yang solutif dan dicatat perubahan-perubahan yang dialami. Adapun kesulitan, layanan yang diberikan dan hasil praktik baik yang dilakukan dalam upaya peningkatan motivasi anak berkebutuhan khusus tunadaksa dapat dilihat dalam tabel berikut :

No

Kesulitan yang dialami

Layanan yang diberikan

Hasil

1

Gangguan lafal pengucapan dalam bicara

Melatih pelafalan bicara dengan komunikasi yang intens dan meminta anak membaca nyaring setiap jadwal bimbingan

Pelafalan sudah bagus. Anak sudah bisa tampil di video yang diunggah pada instagram dengan pengucapan yang lancar.

2

Malu dan rendah diri. Anak sering menyendiri. Tidak memiliki teman dekat.

Memberikan pendampingan secara kontinu. Mengomunikasikan kepada anak tentang keistimewaan setiap manusia ciptaan Allah yang maha besar.

Sudah berbaur dengan teman sekelas dan memiliki teman dekat.

3

Sedih karena tidak memiliki keterampilan olahraga karena cacat fisik yang diderita

Memberikan keterampilan IT yang menunjang masa depannya.

Bisa mengoperasikan beberapa aplikasi di komputer.

4

Menyukai ilmu komunikasi namun yakin tidak mampu karena gangguan pengucapan yang dialami

Mendorong, menyemangati dan meyakinkan kalau dia bisa jika mau berusaha.

Lulus di Ilmu Komunikasi UTU

5

Kesulitan ekonomi, takut membebani orang tua jika lanjut ke pendidikan lebih tinggi

Menjelaskan tentang bantuan pemerintah terhadap pendidikan tinggi berupa KIP kuliah dan beasiswa. Mendampingi pembuatan KIP kuliah

Menerima KIP Kuliah

Tabel 1. Hasil Peningkatan Motivasi Anak Tunadaksa Melalui Metode DKS

 

            Dari tabel di atas dapat dilihat peningkatan motivasi anak tunadaksa dalam pendidikan inklusif. Anak yang awalnya merasa masa depan hanya milik anak normal saja menggapai keinginannya untuk kuliah di jurusan yang ia inginkan. Hal ini menunjukkan metode DKS (Dampingi, Komunikasi dan Semangati) dapat meningkatkan motivasi siswa berkebutuhan khusus tunadaksa dalam pendidikan inklusif.

 

C.    Nilai Penting dan Kebaruan Best Praktice yang Telah Dilaksanakan

Anak berkebutuhan khusus juga berhak mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak normal lainnya. Hanya saja mereka bisa tersingkir jika guru tidak mencari metode yang khusus untuk merangkul anak berkebutuhan khusus. Dari best praktice ini dapat kita lihat bagaimana metode DKS (Dampingi, Komunikasi dan Semangati) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa tunadaksa. Anak yang awalnya ingin berhenti sekolah malah sekarang diterima di perguruan tinggi. Tentulah ini bermakna cukup dalam bagi dirinya dan anak berkebutuhan khusus lainnya.

 

D.    Faktor Pendukung dan Penghambat

Adapun keberhasilan penelitian ini tidak terlepas dari faktor pendukung diantaranya :

a.       Kepala sekolah yang selalu mendukung praktik baik guru di sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan.

b.      Sarana dan prasarana yang memadai seperti labor komputer, jaringan internet untuk membimbing anak mengasah keterampilan informatika dan komunikasi

Adapun faktor penghambat yang dialami penulis selama melaksanakan praktik baik diantaranya :

a.       Masih ada penilaian negatif teman sebaya terhadap siswa tunadaksa.

b.      Masih ada orang tua yang malu menyekolahkan anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi

 

 

 

 

E.     Tindak Lanjut

Penulis selalu melakukan refleksi terhadap setiap metode yang dilakukan untuk meningkatkan motivasi anak berkebutuhan khusus. Lain tunadaksa, lain lagi layanan yang diberikan untuk jenis anak berkebutuhan khusus lainnya. Karena penanganan terhadap anak berkebutuhan khusus harus dilakukan secara berkesinambungan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SIMPULAN DAN SARAN

 

A.    SIMPULAN

Berdasarkan hasil praktik baik yang penulis lakukan tentang peningkatan motivasi siswa berkebutuhan khusus tunadaksa dalam pendidikan inklusif,  dapat disimpulkan bahwa metode DKS (Dampingi, Komunikasi dan Semangati) dapat meningkatkan motivasi siswa tunadaksa di SMAN 1 Sawang.

 

B.     SARAN

Sekolah inklusi dirancang untuk dapat merangkul semua anak Indonesia dengan keunikannya demi mendapatkan pendidikan yang adil dan merata. Ke depannya, penulis menyarankan agar lebih banyak guru melakukan penelitian tentang ini agar menambah khasanah berfikir kita dalam melaksanakan pendidikan inklusif di sekolah masing-masing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

________________. Kamus Besar Bahasa Indonesia. [online]. Tersedia di : kbbi.web.id. diakses pada 22 Oktober 2020

 

Chamidah, Atien Nur.2013.”Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus”. Seminar Pelatihan Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. scholar.google.co.id, diakses tanggal 21 Oktober 2020.

 

Desiningrum, Dinie Ratri. 2016. Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta : Psikosain

 

Mahabbati, Aini. 2010. Pendidikan Inklusif Untuk Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku (Tunalaras). Jurnal Pendidikan Khusus Vol 7 No 2. UNY

 

Masbul. Muhammad Rizal. 2018. Komunikasi Pembelajaran. IQRA, Jurnal Ilmu Kependidikan & Keislaman Vol. 2 No. 1

 

Nana Syaodih Sukmadinata. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Ngalim Purwanto. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Oemar Hamalik. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Bandung.

 

Prastiyono. 2013. Implementasi Kebijakan Pendidikan Inklusif (Studi di Sekolah Galuh Handayani Surabaya). DIA, Jurnal Administrasi Publik Juni 2013, Vol. 11, No. 1, Hal. 117 – 128. Pascasarjana – Untag Surabaya

 

Sardiman AM. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo   Persada.

 

 

 

 


Silahkan download file pada link berikut File Best Practice Arfian

 

 

 

 

 


Genggam Corona, Belajar Penuh Asa

     Dunia berubah? Salah satu pertanyaan sederhana yang bisa memunculkan banyak jawaban. Bahkan banyak pertanyaan baru akan muncul untuk me...

Popular Posts